Sabtu, 02 Mei 2015

Elang Bondol

Burung ini tersebar di hampir seluruh wilayah Indonesia. Di dunia, burung ini berada di China Selatan, India, Asia Tenggara, dan Australia. Burung Elang Bondol berukuran sedang (45 cm), berwarna putih dan coklat pirang. Elang bondol yang remaja berkarakter seluruh tubuh kecoklatan dengan coretan pada dada. Warna berubah putih keabu-abuan pada tahun kedua, dan mencapai bulu dewasa sepenuhnya pada tahun ketiga.Ujung ekor bundar.Iris coklat, paruh dan sera abu-abu kehijauan, kaki dan tungkai kuning suram. Ketika dewasa,karakter tubuhnya adalah kepala, leher, dada putih. Sayap, punggung, ekor, dan perut coklat terang. Kontras dengan bulu primer yang hitam 

Burung pemangsa anak ayamserangga, dan mamalia kecil ini ternyata juga dikenal sebagai pemangsa kepiting. Bisa dibayangkan betapa kuatnya cengkeraman kaki dari burung yang mempunyai habitat di rawa, danau, dan laut ini. Elang ini juga mempunyai tingkat kecepatan terbang naik turun yang tinggi sehingga mampu memburu mangsanya dengan sigap. Sebagai burung elang, kemampuan mencari mangsanya juga dipengaruhi dengan sorotan matanya yang sangat tajam. Cara lain untuk mencari mangsa yaitu dengan terbang rendah di atas permukaan air sambil mengamati mangsanya sebelum menjadi makanannya. Namun, sebagai predator, dia mempunyai kebiasaan memperoleh makanan yang buruk juga yaitu dengan merebut makanan dari burung lain yang lebih kecil atau lebih lemah darinya.
Di kawasan konservasi Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, wilayah yang menjadi habitatnya adalah Taman Wisata Alam Danau Matano, Danau Towuti, dan Danau Mahalona yang tinggal di pohon sekitar daratan danau dan rawa. Berdasarkan pengamatan di ketiga kawasan tersebut, habitat dan populasi jenis burung ini masih terhitung banyak, namun jarang sekali ditemukan sarangnya di tepi perairan danau. Kebanyakan dari mereka menempati pohon di sekitar rawa dan muara danau. Di Danau Towuti, burung ini banyak dijumpai di muara sungai Larona dan muara sungai Mahalona (antara Danau Towuti dan Danau Mahalona). Sedangkan di Danau Matano banyak dijumpai di pepohonan di atas tebing danau yang terletak tidak jauh dari dermaga Soroako menuju Desa Matano.
Berdasarkan hasil penelitian, elang ini mempunyai musim kawin pada bulan November – Desember, berkembang biak pada bulan Januari - Agustus dan Mei - Juli. Telur dierami selama 28 - 35 hari. Setelah menetas, anakan mulai belajar terbang dan meninggalkan sarang pada umur 40 - 56 hari, kemudian menjadi dewasa mandiri setelah umur 100 – 116 hari.
Jenis satwa ini termasuk satwa yang dilindungi, jadi tidak bisa diperjualbelikan dan dipelihara secara bebas mengingat secara keseluruhan di wilayah Indonesia populasi dan habitatnya sudah sangat berkurang. Berdasarkan IUCN Red List, Elang Bondol mempunyai status konservasi Least Concern (Resiko Rendah) sejak tahun 2004 dan CITES (Convention on International Trade of Endangered Fauna and Flora / Konvensi tentang Perdagangan International Satwa dan Tumbuhan) memasukkannya dalam daftar Apendiks II. Mengingat kondisinya saat ini yang sudah berkurang, perlakuan untuk mengembalikan populasi dan habitat jenis burung ini sangat dianjurkan sebelum kondisinya berada pada tahap bahaya yang nantinya akan punah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar